
Poltekpar Lombok – Jumat, 6 Oktober 2023
Hampir 3 tahun lalu saya berkesempatan untuk mampir ke Poltekpar Lombok atas undangan dari tim Senat Mahasiswa dalam acara SEMATALK dengan tema “Gen Z Jaga Tradisi”.
Sebagai sesama Gen Z (si Digital Native kelahiran 1997-2012), saya merasa topik ini penting banget. Seringkali tradisi dianggap “kuno” atau membosankan. Tapi di acara ini, saya bareng Mbak Orchi Damoty (Delegasi Indonesia untuk AIYEP 2022) mencoba membedah gimana caranya biar warisan budaya kita tetap slay di era algoritma.
Sebagai orang yang kesehariannya bergelut dengan algoritma sosial media, saya berbagi beberapa pengalaman saya dalam mempromosikan budaya Lombok khususnya lewat kanal Inside Lombok dan juga Becerite. Dua kanal ini sebenarnya dikomandoi oleh Mas Yogi selaku CEO PT Lombok Media Utama. Peran lain alias tokoh utama lainnya adalah Mas Zul selaku wajah Becerite. Sedangkan saya sendiri adalah orang di balik layarnya yang kali ini diutus mewakili perusahaan di acara tersebut. Kebetulan yang jadi Gen Z juga saya ya, hehe. Oh ya, Moderator kece kali ini adalah Mbak Tata

Ada beberapa poin yang saya ‘bincangkan’ di acara TalkShow tersebut di antaranya:
1. Membuat Tradisi Jadi Relevan
Gimana caranya biar Gen Z nggak ilfeel sama tradisi? Jawabannya ada di pengemasan. Contohnya, di Becerite, kita nggak cuma bicara teori. Kita hadirkan parodi seperti “The Power of Peretuq”. Saat hal-hal keseharian seperti Ketemuq, Peretuq, Begawe, atau Maulid dibalut dengan humor dan visual yang menarik, Gen Z bakal merasa: “Eh, ini relate banget sama aku atau orang-orang sekitar aku!”
2. Bahasa Sasak: Gunakan atau Punah
Saya sempat baca kalau remaja sekarang mulai malas pakai bahasa daerah. Padahal, bahasa Sasak itu luas banget! Di Becerite, kami sengaja bikin segmen logat-logat Sasak. Kenapa? Karena bahasa yang unik ini nggak ada di buku teks; kita harus observasi langsung di lapangan. Menggunakan bahasa daerah di konten adalah cara paling efektif untuk mengabadikannya agar tidak terkikis bahasa luar. Saya beberapa kali riset, mewawancarai teman dari berbagai daerah di Lombok untuk mengulik bahasa mereka.
3. Kekuatan Algoritma untuk Budaya
Dulu, mungkin kita butuh ribuan followers untuk viral. Sekarang? Sosial Media memberi ruang buat siapa saja. Selama kontennya berkualitas, lucu, dan relate, video dari pelosok desa pun bisa tembus jutaan views. Jadi jangan cuma kita yang terpengaruh budaya, tetapi bagaimana agar kita juga bisa memberikan dampak dan dikenal budayanya oleh masyarakat luas. Waktu itu, yang viral senasional adalah “bercyannddaaa” yang dilakoni mahasiswa UGM. Bayangkan kalau budaya dan tradisi bisa diangkat dan diviralkan lagi seperti itu. Maka ia akan turut mengabadi.
4. “Untuk Apa Malu?”
Banyak yang tanya gimana caranya biar nggak malu bawa budaya sendiri. Saya balik tanya: “Untuk apa malu?” Kita harusnya bangga pamer Presean, Begawe, atau Nyongkolan ke media sosial. Bule saja sampai melet (tertarik) lihat budaya kita. Bahkan saya yakin, mayoritas bule datang ke Lombok ya untuk meng-explore budaya kita. Apa kita tidak malu kalau justru kita sendiri tidak tertarik pada budaya kita sendiri?
5. Branding Pariwisata & Hospitality
Lombok itu potensinya sangat besar, apalagi banyak event internasional. Semoga Poltekpar melahirkan bibit bibit yang berbobot demi kemajuan pariwisata Lombok. Terima kasih atas ruang diskusinya. See you di Kuta, see you di Gili, see you di Bali, dan titik titik pariwisata lainnya di Indonesia.








