Hari Sial Enggak Ada di Kalender #1

Rabu, 12 Oktober 2026

Hari itu akan kukenang seumur hidup karena aku hampir kehilangan nyawa! Pada pagi hari yang cukup cerah, aku berangkat ke kantor Inside Lombok. Itu masih pukul enam lewat sedikit, tapi Mbak Wid sudah menelepon, mengingatkan untuk segera karena kami akan menempuh perjalanan panjang menuju Sirkuit Mandalika.

Di sana, kami bertugas meliput sebuah event bernama Shell Eco Marathon, sebuah program akademik global yang berfokus pada efisiensi energi dan salah satu kompetisi teknik mahasiswa terkemuka di dunia.

Aku dan Mba Wid berboncengan dengan Honda ADV, disusul Mas Zazi dengan motor Mio-nya. Agar tidak terlambat, bak pembalap aku gas motor dengan kecepatan penuh. Melewati bypass yang masih sepi di pagi hari. Di Pertamina dekat Bandara Lombok kami rehat untuk mengisi bensin motor. Setelah itu diputuskan untuk memilih jalan Sengkol alih-alih lanjut dari ByPass BIL-Songgong.

Kecepatan tentu sedikit menurun karena jalan ini cenderung lebih sempit dan ramai di beberapa titik. Namun, di titik yang lain jalan kembali sepi. Aku kembali menaikkan kecepatan. Aku pastikan jalan benar-benar sepi dan aman. Tapi ternyata tidak! Sepersekian detik kemudian ada yang menyebrang. Menggunakan sepeda motor yang lebih kecil dari kami. Mereka berdua, berseragam pramuka, tanpa helm, dan DUARRRR…. Aku menabrak!

Aku mendengar teriakan Mba Wiwid sebelum tabrakan terjadi. Aku sendiri buntu, termangu. Tidak percaya dengan apa yang tiba-tiba muncul di hadapan kami. Harusnya aku sedikit berbelok? Harusnya aku pelan pelan saja? Harusnya kami naik mobil saja? Harusnya lebih hati-hati? Intinya, penyesalan selalu datang belakangan kan?

Beberapa detik kemudian aku sadari kami sudah hancur lebur. Orang-orang mengerumuni, mencoba mengangkat kami ke pinggir jalan. Aku tidak tahu kabar yang kutabrak, yang aku tahu merekalah yang salah. “Iya anak-anak itu tiba-tiba nyelonong motong jalan” ujar seseorang. Aku sama sekali tidak peduli segala hal. Entah kenapa aku justru kepikiran event yang hendak kami datangi itu. “Kami nggak bisa lanjut Zazi, kami kecelakaan, kami hancur,” kata Mba Wid di telepon. Sepertinya ia mengabari Mas Zazi. Entah di jalan mana kami berpisah. Sepertinya sudah agak panjang ya. Lanjut ke Part 2… Bersambung…

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top